2018. Chapter 1 of 12

January 2018.

Rainy January.

Month of plans and plans and another plans. Let’s work for a great execution.

Still trying to understand the Terrible-Two phase and how to overcome it. Teaching discipline to a toddler is a herculean task, y’know.

Oh, not to forget. Next month’s main goal: weaning with love.

Also next month: family holiday. Better secure all that tickets and itinerary from now on.

New year didn’t feel any different. Just another year to live by. More goals, more efforts.

The year to contemplate about health. Few of family member got hospitalized last month. My uncle even had a stroke attack. Dad went on his 14th cath, and the result was so-so.

Travel plans for this year got a little ambitious. In a good way, for sure. ‘Murica, maybe?

Ah, I need to invest more and spend less. But what about traveling budget?? (My all-time confusion)

Declutter is my mantra. I didnt read Marie Kondo (yet), but it just feels like needed.

Haven’t watched Big Little Lies. Been wanting to since earlier last year, but, havent got a chance yet.

Home decor! But, with an active toddler in the house, that would be kind of impossible. Ha ha.

Need to reinvigorate my desire to learn, ignite my curiosity and to be brave to step outside of my comfort box.

Advertisements

Life these days

Checking on IG feed lately has given me some sort of strange feeling between jealousy, empathy, happy, amused, like and dislike. You see some people crisscrossing the globe frequently, be it for work or holiday. You see people who actually get famous for doing nothing but controversial attitude. You see cute and cheeky children posing for the photographers but also at the same time you can see lots of post about children with special needs.

Sometimes it’s just too confusing for me to digest and react. I really dont know what’s my position if I only compare life in those little squares on instagram. On my blue days, I feel so insignificant. Prodigal child, happy family on holiday, successful career woman, people who travel around the world.. Some other days I feel extremely grateful to the point where I think I am so selfish and stupid for not being thankful enough with all I have today. One thing I know is, that both feeling can create pressure.

I am completely aware that everything I saw online is only a glimpse of people’s daily life. But still, cant help it. Pressure’s on, buddy.

Just to remember…

Nulis cuma buat inget-inget ini jaman apa, lagi musim apa, dan apa yang lagi terjadi.

akhir November 2017.

  1. Lagi musim hujan, hampir tiap hari hujan terus.
  2. Game of Thrones season 7 udah tamat Mei kemarin dan belum tentu April tahun 2018 ada season 8. Oh NO!
  3. Lagi pengen banget ke Aussie. Entah kenapa ada yang bikin pengen kesana aja gitu. Err.. tapi kalau bisa sih bukan kerjaan ya.
  4. Ketika kata-kata “jaman now” lagi hits
  5. Anak gw habis main ke kantor emaknya Jumat lalu di acara Kids Day di kantor.

Simple things

As I watch my sleeping child, I couldnt help but feeling extremely thankful. This is the child that I’ve been waiting for. The child that I’ve always think about during those hard times of so-called trying-to-conceive program. Those endless tests and doctor consultation. Here she is. Perfect with all her imperfection. Breathing, healthy, active and just simply adorable.

Alhamdulillah.

Kangen.

Banyak hal yang lagi dikangenin. Salah satunya, nulis. Udah lama banget ga nulis dengan khusyuk, baik topik iseng maupun serius. Kerjaan lagi gak banyak butuh tulisan yang panjang dan lebar (ya emang gak efektif sih panjang lebar yes). Laporan gitu-gitu aja kan tulisannya, ga banyak opini pribadi juga. Ngobatin kangen nulis salah satunya adalah banyakin review di aplikasi review restoran inisial Z. Cetek, I know. Cuma nulis pengalaman makan di resto X gimana, kadang kalo nemu fotonya ya diunggah, kebanyakan sih inget pernah makannya aja. Kurang konsisten yaaa ini mau jadi food blogger ala-ala tapi tiap mau makan gak kepikir harus difoto cantik dulu makanannya. Laper, tsay!

Kangen berikutnya adalah kangen ngedate. Yaaa sama laki gw lah yaaaaa… atau sama temen-temen deket juga mungkin. Nikmatin waktu bener2 cuma berdua. Gak diribetin sama anak. Dont get me wrong, I love my children SO MUCH. But sometimes I feel like I need some moments to enjoy without worrying about her playing with the food, or running around screaming across restaurant, etc etc. Just want to enjoy the moment, the food, the conversations. Kangen liburan ngebolang yang bisa keluar dari jam 7 pagi dan balik ke penginapan jam 12 malem dgn kaki yang rasanya mau copot. Nikmatin pemandangan dan foto-foto gedung dengan bebas gak ditemplokin bocah. Kangen ketika perhatian gak kebagi-bagi antara diri sendiri-anak-suami. Sumpek banget rasanya.

To be honest, being a mother (whether its working or stay-at-home mom or whichever category that fits you) is not an easy job. Sometimes you just miss the attention, sometimes you miss being yourself, sometimes you feel like losing your grip and wanted to fell apart but you couldnt because your children need you. Sometimes all of those tasks are just too overwhelming. Ini bukannya gak bersyukur ya, lagi pengen aja numpahin apa yang lagi dirasa akhir-akhir ini.

Ketiga, kangen baca buku dan menikmati toko buku. Been a long time since I enjoyed long-solitude hours in a bookstore. I could spend half day just admiring those books, from silly young adult fiction to recipe books. Seneng banget kalau nemu buku yang ternyata seru.

Keempat, kangen bikin kue/dessert/dll. Berasa ga punya keinginan bikin-bikin deh akhir-akhir ini. Entah kenapa. Banyak faktor kayaknya. Gak mood banget. Padahal masih rajin buka-buka buku resep. Tapi keinginan eksplor lagi super rendah.

Hmhh.. Baru segitu dulu kayaknya yang bisa kecatet.

Until next post! Ciao!

Results vs process

Rasanya didikan yg gw denger dari dulu memang selalu untuk cepet, cepet dan cepet. Cepet selesain, ayo ayo biar cepet sampe, cepet ina itu.. Gw mau berusaha menanamkan dan mengajarkan ke anak gw nanti bahwa proses itu penting, ga kalah penting dari hasil. Mau dapetin tiket? Ya antri dulu. Mau dapet nilai bagus? Ya belajar dulu.

Results are important. But more importantly, is how you get there.

Revolusi mental

Pertama-tama, postingan ini bukan penjabaran jargon presiden terpilih ya. This post is intentionally written to channel my concern regarding Indonesian’s mentality and attitude. Not saying that I have the most perfect one, but I can assure you that I am trying to and convincing my surrounding to have better habits. Now, I have several questions to start with.

Pernah nggak gemes sama orang yang buang sampah sembarangan? Atau gemes liat orang buang sampah dari mobil dilempar ke jalan begitu saja?

Pernah nggak sebel banget sama orang yang ngga bisa antri? Motong antrian, antri nggak lurus dan jadi bikin ribet, dan juga orang-orang yang rempong kalau antri seolah-olah hanya urusan dia yang berarti di dunia ini, yang lain ke laut aja.

Pernah ngga kesel sama vandalisme? Fasilitas publik bersih dan rapi, tiba-tiba dicoret dengan piloks seadanya. Coretannya pun nggak artistik sama sekali, hanya tulisan nama geng atau nama dia yang itupun jelek tulisannya. Dinding rumah orang yang kebetulan bercat putih, atau mural apik sepanjang jalan deket kampus, rambu-rambu penunjuk jalan, semua nggak luput dari coretan piloks. Atau keselnya liat tong sampah dirusak, bangku taman dipreteli, tiang-tiang penunjuk jalan dibuat bengkok.

Mungkin ini baru sebagian kecil dari hal-hal yang jadi perhatian gw, terutama terhadap perilaku dan kebiasaan orang-orang Indonesia. Bikin miris dan meringis. Inget ngga sih kalau dari TK kita diajari untuk selalu buang sampah pada tempatnya (yaitu di tong sampah ya, jangan ngaco deh bilang di sungai -_-“). Atau diajari baris-berbaris dan antri, itu kan udah dari dulu ya. Kenapa susah banget sih buat menerapkan itu di dunia nyata?

Sedih loh jujur. Tua muda seringkali ngga peduli. Pokonya semua orang maunya kepentingan dia dulu yang diutamakan, kepentingan publik terserah deh. Istilahnya, yang penting gue selamet, negara gue rusak sabodo teuing. Suka pada lupa yah hidup tuh berdampingan sesama manusia loh. Ada kepentingan pribadi, ada juga kepentingan publik/bersama. Coba kalau semua buang sampah sembarangan, emang sih enak di individu karena gak repot jalan ke tong sampah. Iya kalau satu orang, lah ini sejagat RT-RW-Kelurahan-Kecamatan nyampah sembarangan semua apa nggak bau tuh lingkungan? Bau, banyak lalat, ujung-ujungnya banyak bibit penyakit tumbuh dan nyebar dari situ. Nyaman nggak tuh? Coba yang sering buang sampah sembarangan dari mobil, mungkin alasannya “ah, kecil kok. Gak keliatan”. Iya itu sampah satu mobil kecil mungkin, kalo semua mobil buang sembarangan di jalan juga? Apa nggak penuh tuh jalanan sama sampah? Eits jangan salah, gw pernah liat sendiri kok orang yang buang sampah jeruk satu plastik dari mobil begitu saja ke jalanan. Situ pikir jeruk dilempar ke jalan bisa langsung teleportasi gitu ke TPA? Suka ngga habis pikir aja gitu. Kecil ataupun besar, sampah ya sampah. Kalau memang belum ada tempat sampah di deket kita, bisa kan dipegang dulu sebentar sampai ketemu tempat sampahnya. Kesadaran hidup bersih yang ngerasain manfaatnya tuh kita-kita juga kok. Lingkungan bersih, ngga bau busuk, dan pastinya lebih nyaman.

Pernah gw baca di suatu artikel (lupa sumbernya apa, duh buruk banget sih jadi penulis gatau sumber hahaha), yang disitu intinya bilang bahwa di negara maju (lupa entah Jepang atau Jerman ya, correction please) mereka lebih khawatir kalau anak-anaknya ngga bisa antri daripada ngga bisa matematika. Karena mengajarkan matematika secara intensif sampai bisa itu butuh waktu relatif sebentar hanya hitungan bulan, sementara mengajarkan antri harus sejak dini. Di poin ini gw sangat setuju. Belajar antri. Seberapa susahnya sih mengantri? Gw yakin sebagian besar TK-TK se-Indonesia pasti pernah mengajarkan anak-anak muridnya untuk antri. Baris dengan lurus. Antri  masuk kelas kah, antri mau pulang, antri jatah makanan, pokoknya diajarkan buat tertib. Antri ya pada satu barisan/garis. Antri juga demi kebaikan bersama kan. Supaya teratur dan  juga adil. Orang yang datang duluan berhak dong dilayani lebih dulu. Antri mengajarkan kita untuk berempati terhadap kepentingan sesama. Kalau antriannya rapi, prosesnya cepat, kan semua juga senang.

Gw jujur sangat takjub dengan kebiasaan antri orang-orang Jepang. Pada hari itu kebetulan Ueno Zoo sedang gratis karena Midori no Hi, dan selayaknya manusia yang doyan apa-apa gratis, pengunjung kebun binatang membludak. Normalnya bayar sekitar 800 Yen, hari itu gratis tis tis. Pintu masuk lewat loket reguler antriannya lumayan  panjang dan kebetulan panas (padahal masih musim semi), tapi ada petugas yang menyuruh kita masuk dari pintu samping. Pintu samping ini nggak ada garis antriannya sama sekali, tapi hebatnya semua orang berbaris rapi antri masuk ke pintu. Nggak ada tuh ceritanya berbondong-bondong buru-buru seakan dikejar anjing di belakang. Semua rapi, tenang, tetap kalem dan barisan rapi! Nggak ada petugas yang menghalau barisan supaya rapi lho. Nggak berdesak-desakan sama sekali padahal hari itu pengunjungnya super banyak. Kagum dan jadi malu sendiri. Kebayang kalo ini kejadiannya di Indonesia. Duh, pasti deh berdesakan dan ujung-ujungnya rusuh.

Gausalah jauh2, ngantri keluar konser..rusuh.. Sesimpel antri gerbang tol, rusuh. Ya ampun. Gw cuma bisa berharap (dan nyiapin stok sabar ekstra banyak) buat ngadepin semua kesemrawutan mental ini. Juga berusaha ngajarin anak untuk berlaku baik. Supaya sadar kalo hidup tuh sama-sama, demi kebaikan bersama juga. Kata kuncinya cuma satu: Sadar.

Sadar yuk untuk terus jadi lebih baik!