Revolusi mental

Pertama-tama, postingan ini bukan penjabaran jargon presiden terpilih ya. This post is intentionally written to channel my concern regarding Indonesian’s mentality and attitude. Not saying that I have the most perfect one, but I can assure you that I am trying to and convincing my surrounding to have better habits. Now, I have several questions to start with.

Pernah nggak gemes sama orang yang buang sampah sembarangan? Atau gemes liat orang buang sampah dari mobil dilempar ke jalan begitu saja?

Pernah nggak sebel banget sama orang yang ngga bisa antri? Motong antrian, antri nggak lurus dan jadi bikin ribet, dan juga orang-orang yang rempong kalau antri seolah-olah hanya urusan dia yang berarti di dunia ini, yang lain ke laut aja.

Pernah ngga kesel sama vandalisme? Fasilitas publik bersih dan rapi, tiba-tiba dicoret dengan piloks seadanya. Coretannya pun nggak artistik sama sekali, hanya tulisan nama geng atau nama dia yang itupun jelek tulisannya. Dinding rumah orang yang kebetulan bercat putih, atau mural apik sepanjang jalan deket kampus, rambu-rambu penunjuk jalan, semua nggak luput dari coretan piloks. Atau keselnya liat tong sampah dirusak, bangku taman dipreteli, tiang-tiang penunjuk jalan dibuat bengkok.

Mungkin ini baru sebagian kecil dari hal-hal yang jadi perhatian gw, terutama terhadap perilaku dan kebiasaan orang-orang Indonesia. Bikin miris dan meringis. Inget ngga sih kalau dari TK kita diajari untuk selalu buang sampah pada tempatnya (yaitu di tong sampah ya, jangan ngaco deh bilang di sungai -_-“). Atau diajari baris-berbaris dan antri, itu kan udah dari dulu ya. Kenapa susah banget sih buat menerapkan itu di dunia nyata?

Sedih loh jujur. Tua muda seringkali ngga peduli. Pokonya semua orang maunya kepentingan dia dulu yang diutamakan, kepentingan publik terserah deh. Istilahnya, yang penting gue selamet, negara gue rusak sabodo teuing. Suka pada lupa yah hidup tuh berdampingan sesama manusia loh. Ada kepentingan pribadi, ada juga kepentingan publik/bersama. Coba kalau semua buang sampah sembarangan, emang sih enak di individu karena gak repot jalan ke tong sampah. Iya kalau satu orang, lah ini sejagat RT-RW-Kelurahan-Kecamatan nyampah sembarangan semua apa nggak bau tuh lingkungan? Bau, banyak lalat, ujung-ujungnya banyak bibit penyakit tumbuh dan nyebar dari situ. Nyaman nggak tuh? Coba yang sering buang sampah sembarangan dari mobil, mungkin alasannya “ah, kecil kok. Gak keliatan”. Iya itu sampah satu mobil kecil mungkin, kalo semua mobil buang sembarangan di jalan juga? Apa nggak penuh tuh jalanan sama sampah? Eits jangan salah, gw pernah liat sendiri kok orang yang buang sampah jeruk satu plastik dari mobil begitu saja ke jalanan. Situ pikir jeruk dilempar ke jalan bisa langsung teleportasi gitu ke TPA? Suka ngga habis pikir aja gitu. Kecil ataupun besar, sampah ya sampah. Kalau memang belum ada tempat sampah di deket kita, bisa kan dipegang dulu sebentar sampai ketemu tempat sampahnya. Kesadaran hidup bersih yang ngerasain manfaatnya tuh kita-kita juga kok. Lingkungan bersih, ngga bau busuk, dan pastinya lebih nyaman.

Pernah gw baca di suatu artikel (lupa sumbernya apa, duh buruk banget sih jadi penulis gatau sumber hahaha), yang disitu intinya bilang bahwa di negara maju (lupa entah Jepang atau Jerman ya, correction please) mereka lebih khawatir kalau anak-anaknya ngga bisa antri daripada ngga bisa matematika. Karena mengajarkan matematika secara intensif sampai bisa itu butuh waktu relatif sebentar hanya hitungan bulan, sementara mengajarkan antri harus sejak dini. Di poin ini gw sangat setuju. Belajar antri. Seberapa susahnya sih mengantri? Gw yakin sebagian besar TK-TK se-Indonesia pasti pernah mengajarkan anak-anak muridnya untuk antri. Baris dengan lurus. Antri  masuk kelas kah, antri mau pulang, antri jatah makanan, pokoknya diajarkan buat tertib. Antri ya pada satu barisan/garis. Antri juga demi kebaikan bersama kan. Supaya teratur dan  juga adil. Orang yang datang duluan berhak dong dilayani lebih dulu. Antri mengajarkan kita untuk berempati terhadap kepentingan sesama. Kalau antriannya rapi, prosesnya cepat, kan semua juga senang.

Gw jujur sangat takjub dengan kebiasaan antri orang-orang Jepang. Pada hari itu kebetulan Ueno Zoo sedang gratis karena Midori no Hi, dan selayaknya manusia yang doyan apa-apa gratis, pengunjung kebun binatang membludak. Normalnya bayar sekitar 800 Yen, hari itu gratis tis tis. Pintu masuk lewat loket reguler antriannya lumayan  panjang dan kebetulan panas (padahal masih musim semi), tapi ada petugas yang menyuruh kita masuk dari pintu samping. Pintu samping ini nggak ada garis antriannya sama sekali, tapi hebatnya semua orang berbaris rapi antri masuk ke pintu. Nggak ada tuh ceritanya berbondong-bondong buru-buru seakan dikejar anjing di belakang. Semua rapi, tenang, tetap kalem dan barisan rapi! Nggak ada petugas yang menghalau barisan supaya rapi lho. Nggak berdesak-desakan sama sekali padahal hari itu pengunjungnya super banyak. Kagum dan jadi malu sendiri. Kebayang kalo ini kejadiannya di Indonesia. Duh, pasti deh berdesakan dan ujung-ujungnya rusuh.

Gausalah jauh2, ngantri keluar konser..rusuh.. Sesimpel antri gerbang tol, rusuh. Ya ampun. Gw cuma bisa berharap (dan nyiapin stok sabar ekstra banyak) buat ngadepin semua kesemrawutan mental ini. Juga berusaha ngajarin anak untuk berlaku baik. Supaya sadar kalo hidup tuh sama-sama, demi kebaikan bersama juga. Kata kuncinya cuma satu: Sadar.

Sadar yuk untuk terus jadi lebih baik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s